niappa

Bersiap mengarungi langit ketidakterbatasan (agar hidup tetap bergairah)

‘Harga’ Rancang Grafis Indonesia (2)

with one comment

Apresiasi Karya Grafis

Perkembangan profesi dan bidang rancang grafis sangat dipengaruhi oleh perkembangan dan kondisi lingkungan sosial, budaya, dan ekonomi. Negara berkembang seperti Indonesia masih memusatkan perhatiannya pada upaya pemulihan kondisi ekonomi nasional. Dengan sendirinya bidang rancang grafis berada pada prioritas nomor sekian. Masyarakat Indonesia masih disibukkan dengan masalah kenaikan harga; bahan pokok, bahan bakar, minyak goreng, dan susu.

Kondisi tersebut jelas mempersulit masyarakat Indonesia untuk memperhatikan perkembangan bidang rancang grafis. Oleh karena masih disibukkan dengan pemulihan kondisi ekonomi negara, kelompok, golongan, keluarga, dan perorangan rasanya sulit untuk bisa meluangkan waktu guna mengenal dunia rancang grafis secara khusus. Ujungnya rancang grafis beserta proses kreatifnya terdengar seperti sesuatu yang asing bagi sebagian orang. Bahkan tidak jarang klien sulit menjelaskan apa maunya pada saat memesan sebuah karya grafis.

Ketidaktahuan klien tersebut akan mempengaruhi apresiasi mereka terhadap karya grafis. Hal ini sebenarnya merupakan tantangan bagi para perancang grafis untuk mengambil inisiatif memajukan rancang grafis Indonesia. Sebagai sebuah tantangan, hal tersebut terungkap dalam kutipan dari Concept Magazine Nomor 3 Edisi 17 tahun 2007 sebagai berikut.

Ketika owner-nya tak tahu maunya kemana. Sementara influence tertinggi pasti datang dari pemilik perusahaannya. Visual kan ada kategorinya sendiri. Contoh, saat ditanya Apple logonya bagus ngga? Jawabnya, “Bagus, karena memberikan benefit yang luar biasa!” Itu kesulitannya. Di Indonesia, pemilik perusahaan biasanya belum mempunyai sense untuk itu, sehingga logo menjadi “setengah-setengah” dan terkesan masih “mencari”… Hal ini berbahaya, karena image sebuah perusahaan akan tampil di logo itu sendiri. (Daniel Surya – Country Director dari Enterprise IG)

Buat kami para desainer, umumnya masalahnya lebih ke masalah pengertian, pendalaman, pengapresiasian klien itu sendiri terhadap logo. Maksudnya, hal itu belum dihargai hingga sekarang. (Nico A. Pranoto – Creative Director of Banana Inc.)

… paradigma yang menyuruh itu adalah tantangannya. Maksudnya, kita harus mengetahui apa yang ada di pikiran klien, karena sering kali apa yang mereka ucapkan, tak sama dengan apa yang ada di pikiran, hati maupun ekspetasinya. “Hal ini sangat penting, karena kita harus menjawab semua kepentingan dan kebutuhan yang klien kita inginkan,” tuturnya mewanti-wanti. (Sakti Makki – MakkiMakki Branding Consultant)

Bagaimanapun juga penghargaan dan apresiasi merupakan salah satu faktor yang mampu meningkatkan sebuah potensi. Hal ini tidak hanya berlaku untuk rancang grafis, melainkan juga untuk setiap bidang dan setiap aktivitas. Tentunya hal tersebut harus disikapi dengan tepat. Penyikapan yang tepat terhadap suatu penghargaan dan apresiasi yang diberikan oleh orang lain pastilah dapat menjadi motivasi untuk berkarya lebih baik.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa apresiasi karya grafis di Indonesia masih sangat perlu untuk ditingkatkan. Harus disadari pula bahwa saat ini Indonesia sedang berada dalam suatu proses berkembang. Walaupun demikian bukan berarti kondisi tersebut menjadikan suatu pengecualian. Indonesia tidak hidup di atas bumi ini sebagai satu-satunya bangsa dan negara. Banyak bangsa dan negara lain yang juga sedang berkembang dan berpacu dalam persaingan globalisasi. Satu hal yang pasti, bangsa lain akan menghargai Indonesia sebagaimana rakyat Indonesia menghargai dan mengapresiasi bangsanya sendiri.

bersambung …

Sebaiknya baca juga sebelumnya
Desain, Oh Desain …
‘Harga’ Rancang Grafis Indonesia (1)

Written by Asmaradi, A.W.

August 28, 2007 at 3:17 am

Posted in Desain

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. hehe, tevat. Ini yang sedang terjadi di Indonesia, Mas. Desain masih buat gaya-gayaan. Desainer juga emoh mengkomunikasikan fungsinya (apa takut ilmunya bocor, entah).

    Jadi kaya mau jualan celana dalam ke suku yang pake baju aja kaga.😦

    hariadhi

    February 24, 2008 at 12:13 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: