niappa

Bersiap mengarungi langit ketidakterbatasan (agar hidup tetap bergairah)

‘Harga’ Rancang Grafis Indonesia (1)

with 2 comments

Rancang grafis (graphic design) dapat dikatakan sebagai salah satu ‘dunia’ yang berkaitan dengan seni (art). Pelakunya sering disebut sebagai perancang grafis (graphic designer). Sedangkan aktivitasnya mampu menghasilkan sebuah karya grafis. Sebagai sebuah karya, tentunya karya grafis pun layak mendapatkan penghargaan.

Penghargaan terhadap karya grafis bisa dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda. Penghargaan dari nilai ekonomi dan penghargaan atas nilai seninya. Penghargaan sebuah karya atas nilai seninya lebih tepat disebut dengan apresiasi. Apresiasi adalah kesadaran terhadap nilai seni dan budaya. Umumnya, sebuah karya dengan nilai seni yang tinggi akan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Tidak sebaliknya, sebuah karya dengan nilai ekonomi yang tinggi belum tentu mempunyai nilai seni yang tinggi. Berkaitan dengan nilai seni biasanya faktor subjektif seseorang mempengaruhi penilaiannya. Warna hitam dan warna putih sama bagusnya, tapi ada orang yang suka dan adapula yang tidak suka. Tetapi tulisan ini tidak bermaksud membahas subjektivitas dalam penilaian sebuah karya grafis, melainkan penghargaan dan apresiasi terhadap rancang grafis Indonesia.

Penghargaan karya Grafis atas Nilai Ekonominya

Sebuah karya grafis, terutama yang komersial sudah pasti mempunyai nilai ekonomi. Nilai ekonomi sebuah karya grafis sampai saat ini masih menjadi permasalahan bagi para perancang grafis sendiri. Kenapa demikian? Berkaitan dengan nilai ekonomi, berikut ini ada sebuah kutipan yang menarik untuk disimak.

Ternyata daya cipta dan kreativitas ada hubungannya dengan masalah rupiah. Ini bukan suatu ‘excuse’, namun kenyataan sehari-hari yang terjadi di sekitar kita, walaupun tidak berarti bahwa suatu bayaran tinggi menjamin mutu desain yang prima. Masalah ekonomi selalu menjadi hal penting dalam setiap profesi. Bagi seorang desainer ‘free lance’ atau suatu biro desain masalah ini punya hubungan langsung dengan kegiatan profesionalnya. Berapa besar biaya desain untuk suatu pekerjaan tertentu adalah pertanyaan yang sulit dijawab dengan tepat pada profesi perancang grafis. Seorang dokter atau arsitek lebih mudah menetapkan taripnya karena mereka telah punya standar yang walaupun bervariasi tetapi masih tetap ada dalam batas tertentu. Dalam dunia perancang grafis di Indonesia hal ini sangat tidak seragam dan bergantung pada situasi atau kasus tertentu yang berbeda pada setiap kesempatan.[designgrafisindonesia]

Fakta yang ada sekarang, banyak perancang grafis yang menetapkan standar pribadi. Tentunya disesuaikan dengan kepentingan pribadinya juga. Tetapi justru karena standar tersebut dibuat atas ukuran pribadi akhirnya yang terjadi adalah ‘tabrakan’ harga. Bahkan ada sebuah spanduk yang mempromosikan layanan digital printingnya dengan hiasan kata ‘biaya desain gratis’. Tetapi, sekali lagi seperti kutipan di atas “… walaupun tidak berarti bahwa suatu bayaran tinggi menjamin mutu desain yang prima.” Nah, apalagi yang gratis? Jadi rasanya spanduk tersebut perlu dibuktikan dulu pelayanan dan hasilnya.

Lepas dari ada atau tidak adanya standar harga dalam dunia perancang grafis, fakta sulitnya menentukan harga sebuah karya grafis menjadi salah satu penyebab sulitnya klien untuk menimbang harganya. Wajar saja kalau kemudian masing-masing pihak menghargai karya grafis tersebut menurut rasa masing-masing pihak terhadap karya grafis tersebut. Dalam kondisi seperti ini yang sering terjadi kemudian adalah tawar menawar berdasarkan titik kepuasan, baik si perancang maupun klien. Perancang mengukur harga atas proses kerjanya, sementara klien mengukur harga atas hasil yang diperolehnya. Kemungkinan pada suatu titik tertentu kedua pihak mencapai kepuasan yang sama sehingga terjadilah deal dan transaksi. Kemungkinan yang lain adalah tidak tercapainya titik temu kepuasan tersebut yang kemudian menjadikan transaksi tersebut batal. Bagi saya pribadi, cara tersebut merupakan solusi praktis untuk mengatasi masalah penghargaan karya grafis atas nilai ekonomi yang dimilikinya.

Ada sebuah catatan yang perlu diketahui bahwa sebenarnya pada saat masing-masing pihak mengukur harga atas proses maupun hasil yang diperolehnya, disitulah diperlukan kesadaran terhadap nilai seni sebuah karya grafis. Apresiasi seorang klien dalam hal ini ikut memegang peranan.

Berkaitan dengan bagaimana menetapkan harga sebuah karya grafis, setiap perancang grafis pastilah mempunyai solusi masing-masing. Tidak menutup kemungkinan bagi beberapa perancang grafis hal tersebut bukan merupakan suatu masalah yang penting. Namun, apapun cara, tips, dan triknya, permasalahan sulitnya menetapkan harga sebuah karya grafis sebenarnya merupakan tugas dan tantangan para perancang grafis sendiri. Melalui tulisan ini saya mengupayakan hal tersebut, paling tidak berupaya untuk membuka diri terhadap komunitas grafis dan non grafis, klien dan calon klien. Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi wacana dan media untuk saling lebih mengenal.

bersambung (apresiasi karya grafis) …

Sebaiknya baca juga sebelumnya
Desain, Oh Desain …

Written by Asmaradi, A.W.

August 22, 2007 at 1:17 am

Posted in Desain

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. bisa order cover buku gak?

    fadly

    January 7, 2008 at 4:17 pm

  2. @ fadly,
    boleh saya coba? silakan kirimkan spesifikasi cover tersebut ke email saya.

    a. niappa

    January 9, 2008 at 1:21 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: