Memahami Layer pada Photoshop
Pada saat kita bekerja dengan Photoshop maka tidak bisa tidak menggunakan layer. Fungsi layer begitu penting namun sering kali tidak diperhatikan keberadaannya. Sesuai dengan namanya, layer bisa diartikan sebagai pelapis atau lapisan. Kehadirannya mirip sebuah lapisan plastik yang tembus pandang (transparan), seperti plastik transparan yang sering digunakan sebagai media presentasi OHP (Over Head Projector. Beberapa presentasi dengan OHP tidak jarang menumpuk dua sampai tiga plastik transparan pada saat menunjukkan sebuah grafik. Demikian juga bila kita bekerja dengan Photoshop, maka sebuah gambar bisa terdiri dari beberapa tumpuk layer, dimana setiap layer berisi gambar dengan fungsinya masing-masing.
Sebuah layer bisa saja berisi gambar rumah, sebut saja layer rumah. Layer berikutnya berisi gambar pepohonan dan sebut dengan layer pohon. Sebuah layer lainnya berisi gambar orang yang bisa kita beri nama dengan layer orang. Pada saat ketiga layer tersebut ditumpuk maka ketiganya akan membentuk sebuah gambar rumah lengkap dengan pepohonan di sampingnya dan si pemilik rumah yang berada di teras/halaman. Selanjutnya kita bisa saja menambah layer-layer lainnya yang berisi gambar awan, matahari dan seterusnya, sehingga ketika semua layer tersebut ditumpuk maka kita bisa mendapatkan sebuah gambar rumah yang lengkap dengan lingkungannya.
kemungkinan lain, kita bisa saja menghadirkan layer warna yang mengikuti bentuk rumah tersebut. Kita bisa membuat beberapa layer warna, misalnya layer kuning, layer hijau, atau layer biru. dengan demikian kita bisa menampilkan gambar rumah tersebut dengan berbagai warna yang kita inginkan hanya dengan mengubah-ubah warna pada layer warna saja. Apabila kita tidak suka dengan gambar pohonnya, maka kita bisa mengubahnya layer pohonnya saja.
Demikianlah kita dapat menggambar, mengubah, menempelkan dan mengubah posisi elemen-elemen dalam sebuah layer tanpa mengusik layer lainnya. Setiap layer (lapisan) bebas dari hubungan dengan layer (lapisan) lainnya dalam sebuah gambar. Fungsi layer inilah yang sangat penting dalam pengerjaan sebuah proses kreatif menggunakan Photoshop. Tanpa adanya layer bisa kita bayangkan bagaimana repotnya saat kita ingin melakukan perubahan pada satu bagian gambar tanpa mengganggu bagian gambar yang lain.
Layer-layer tersebut berada dalam suatu wadah yang disebut dengan palet layer (layers palette) Secara teknis kita dapat menggunakan layers palette untuk membuat, menyembunyikan, menampilkan, menduplikasi, menyatukan, mengunci dan menghapus layer. Satu hal yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa kita hanya dapat mengubah isi layer yang aktif, dan hanya sebuah layer yang dapat diaktifkan. Sebuah layer akan memiliki tamnil yang terletak di samping kiri nama layer tersebut, dan tamnil tersebut akan di-update setiap kali kita mengubah isi layer-layer tersebut.
Walaupun kita tidak bisa mengaktifkan beberapa layer sekaligus, kita masih bisa mengubungkan (me-link) sebuah layer dengan layer-layer lainnya. Sehingga ketika kita memindahkan atau mengubah bentuk (transform) sebuah layer, perubahan yang terjadi juga mempengaruhi layer lainnya yang dihubungkan (di-link) dengan layer tersebut.
Ada satu layer yang sudah pasti akan selalu muncul ketika kita mengawali sebuah projek yaitu layer yang dikenal dengan nama Background Layer. Keberadaannya selalu terkunci, namun demikian kita dapat membukanya atau bahkan menjadikannya sebagai sebuah layer biasa.
Demikianlah layer dalam pandangan saya. Ada yang ingin menambahkan? Mudah-mudahan akan sangat berguna.
.
Desain (Grafis) adalah …
Setiap kali mendengar kata desain, yang terlintas dalam benak seseorang pastilah sebuah karya cipta yang indah, bagus, dan menarik. Seorang gadis akan membayangkan sebuah model pakaian dengan desain yang mampu membuat dirinya tampil menarik. Sementara seorang penggemar motor akan membayangkan sebuah motor dengan modifikasi yang sporty. Setiap orang akan mempunyai imajinasi yang berbeda terhadap sebuah kata desain.Sekarang coba kita perhatikan benda-benda yang ada di sekitar kita. Pakaian, sepatu, tas, jam tangan, handphone, dan masih banyak lagi. Perhatikan dengan lebih seksama dari biasanya, saat kita menggunakannya. Beragam sekali bentuk dan fasilitas atau kegunaannya. Mengapa sebuah benda yang sama fungsinya (misalnya handphone), bisa memiliki desain yang berbeda? Kembali pada imajinasi; setiap orang mempunyai imajinasi yang berbeda walaupun untuk satu jenis benda yang sama. Imajinasi-lah yang kemudian mempengaruhi proses kreatif seseorang dalam berkarya cipta sampai menghasilkan sebuah desain.
Dengan demikian pengertian desain berdasarkan uraian di atas adalah sebuah hasil akhir dari rangkaian proses kreatif seseorang. Sedangkan kreativitas adalah sesuatu yang tidak bisa muncul dengan sendirinya, melainkan harus melalui latihan dan selalu diasah. Sebagian orang memang dibekali dengan bakat alamiah dalam bidang desain. Nah, bagi sebagian lagi yang tidak memiliki bakat alamiah di bidang desain, latihan dan latihan adalah salah satu kuncinya.
Desain Grafis
Ketika sebuah desain ‘berbicara’ tentang bangunan maka yang ‘berbicara’ adalah arsitektur (desain bangunan). Saat sebuah desain ‘menceritakan’ keindahan sebuah taman maka yang ‘berbicara’ adalah desain lansekap. Giliran sebuah desain yang menampilkan bentukan-bentukan furniture, telepon, gelas dan sebagainya maka desain produklah yang ‘berbicara’. Demikian pula saat seseorang melihat sebuah poster, sampul buku, sampul CD, iklan, brosur dan multimedia maka desain grafislah yang ‘berbicara’.
Mengenai desain grafis, seperti yang diuraikan dalam wikipedia, pada pertengahan 1980, kedatangan desktop publishing serta pengenalan sejumlah aplikasi perangkat lunak grafis memperkenalkan satu generasi desainer pada manipulasi image dengan komputer dan penciptaan image 3D yang sebelumnya adalah merupakan kerja yang susah payah. Desain grafis dengan komputer memungkinkan perancang (desainer) untuk melihat efek dari layout atau perubahan tipografi dengan seketika tanpa menggunakan tinta atau pena, atau untuk mensimulasikan efek dari media tradisional tanpa perlu menuntut banyak ruang.
Pada umumnya komputer dianggap sebagai alat yang sangat diperlukan dalam industri desain grafis. Komputer dan aplikasi perangkat lunak umumnya dipandang, oleh para profesional kreatif, sebagai alat produksi yang lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan metode tradisional.
Sebagai sebuah alat produksi, komputer berfungsi sebagai sarana yang mempermudah seorang desainer untuk mewujudkan ide-ide kreatifnya ke dalam bahasa gambar (visual). Desain grafis dalam pengertiannya sebagai sebuah bahasa visual merupakan sebuah komposisi dari ilustrasi (image), tipografi, dan warna. Jadi bisa dikatakan bahwa proses desain grafis adalah menciptakan, mengolah, dan mengatur peletakan, ukuran, dan tampilan dari ketiga elemen tersebut sehingga menghasilkan suatu komposisi visual yang mampu berkomunikasi secara verbal dengan orang yang melihatnya.
Masih ingat iklan dua produsen rokok yang sama-sama menawarkan produk rasa mint-nya? Iklan yang pertama menampilkan seekor naga, sementara iklan yang kedua diwakili oleh selembar daun.
Produk yang pertama menampilkan animasi seekor naga yang ketika menghembuskan nafasnya keras-keras segala sesuatu di sekitarnya mendadak menjadi beku karena hawa dingin yang dikeluarkannya. Biasanya seekor naga akan mengeluarkan semburan api yang mampu menghanguskan segala sesuatu karena demikian hebat dan besarnya api tersebut. Nah, dalam iklan ini naga dan es ‘berbicara’ tentang bagaimana dinginnya rasa rokok tersebut sampai-sampai seekor naga yang telah mengkonsumsi rokok dengan rasa mint tersebut tidak lagi mengeluarkan api melainkan tiupan hawa dingin yang membekukan. Kemudian dalam iklan cetaknya, produk ini cukup menampilkan kotak kecil es yang membeku. Mengamati iklan tersebut terbayang bagaimana dinginnya rasa mint dari rokok tersebut.
Produk rokok yang kedua mempunyai slogan yang kurang lebih berbunyi ‘… 100% Menthol Alam!’. Menthol adalah nama sejenis dedaunan yang menghasilkan rasa mint. Dalam iklannya tampak panorama pepohonan yang rimbun, kemudian disusul dengan animasi sehelai daun menthol yang terjatuh karena hembusan angin. Panorama pepohonan yang sejuk dan asri, ditambah dengan jatuh perlahannya sehelai daun menthol ‘berbicara’ tentang unsur alam yang kuat yang dihadirkan (digunakan) dalam produknya. Seolah-olah ingin mengatakan bahwa produknya tidak mengandung bahan-bahan kimia yang membahayakan sekadar untuk memunculkan rasa mint-nya. Namun demikian melihat iklan yang kedua ini terbayang betapa alaminya bahan yang digunakan untuk menciptakan rasa mint tersebut.
Nah, ternyata menarik juga ya membicarakan desain? Bagaimana dengan Anda?
Desain Buku Hukum Pidana HaKI

Sesaat setelah membaca judul bukunya entah bagaimana saya tertarik untuk membuat desain cover buku tersebut. Ada percik-percik ide yang terlintas dalam pikiran saya. Tidak ingin percikan itu hilang, segera saya menuliskan beberapa catatan dalam buku kecil saya.
Selama ini hukum identik dengan ‘hitam’ dan ‘putih’. Para penegak hukum dituntut untuk bisa bersikap tegas di setiap keputusannya, apalagi di jaman reformasi seperti sekarang ini. Penegak hukum yang ‘abu-abu’ (baca: ragu-ragu) sudah pasti akan menjadi bahan cemooh masyarakat. Tidak bisa disangkal bahwa hukum memang selalu berjalan seiring dengan ‘kegelapan’. Oleh sebab itu dalam desain, warna hitam seolah menjadi warna wajib dalam bidang hukum. Pada desain hukum dengan tema-tema tertentu yang lebih populer, warna merah bisa menjadi alternatif untuk memberikan kesan ‘berani’ atau bahkan ‘tragis.
Pada desain buku Hukum Pidana Hak atas Kekayaan Intelektual saya mecoba menawarkan suasana yang berbeda, yang jauh dari kesan gelap dan misterius. Tampil dengan konsep ‘clean design’, cover buku ini menawarkan kesan populer, bersih, dan elegan yang pas dengan isyu intelektual sebagai tema bahasan dalam buku ini. Tampilan luar buku dengan bakground warna putih saya akui memang berbeda dengan kebanyakan buku-buku hukum yang sudah ada. Hal ini bisa menjadi alasan bagi beberapa orang untuk menolak desain buku ini, terutama bagi yang terlanjur sepakat dengan pernyataan bahwa hukum adalah hitam. Untuk menjembatani hal tersebut, saya menggunakan warna merah yang rasanya bisa diterima baik oleh ‘hitam’ dan ‘putih’.
Selain pemilihan warna, beberapa elemen desain lain yang membuat buku ini tampil lebih populer dan elegan adalah pemilihan dan komposisi baik tipografi maupun ilustrasi yang tidak terlalu banyak menggunakan efek-efek komputer. Berikut ini uraian singkat tentang elemen-elemen desain tersebut.
HaKI (merah), menjadi kelebihan tampilan buku karena berpotensi menjadi ‘daya tarik pertama’ saat berada di etalase. Didukung dgn ukuran yg dominan dan warna merah yang mencolok. Manusia dgn Kepala Lampu, merupakan simbol ‘intelektualitas’ yang menjadi tema substansial dari buku ini. Ilustrasi ini pun akan menarik perhatian konsumen untuk melihat lebih lama karena ‘kepala lampunya’. Tindak Pidana (hitam), dengan warnanya yang hitam kompoenen ini berfungsi sbg penyeimbang antara background yang terang dan merah HaKI yg mencolok, shg cover tidak menjadi ‘pucat’. Keseimbangan juga dimunculkan melalui ukuran font Tindak Pidana’ yg lebih kecil drpd HaKI. Hak atas Kekayaan Intelektual (abu-abu), ditulis sedikit lebih kecil dengan warna abu-abu agar tidak mencolok dan menjadi ‘ramai’ yang beresiko mengaburkan tujuan untuk menciptakan kesan bersih dan elegan. Punggung Buku (Merah Bata), dengan warna yang berbeda sekali dengan warna front cover, bertujuan agar front cover lebih terekspos. Warna merah yg lebih gelap dipilih dgn pertimbangan; bidang hukum dan lebih berkarakter drpd kuning atau hijau misalnya, serta menyesuaikan dgn HakI merah di depan. Background Back Cover (Merah Bata), meneruskan warna merah bata pada punggung buku hingga ke belakang, sehingga akan menjadi ‘kejutan’ saat konsumen membalikkan buku dari depan ke belakang karena mendapatkan ‘sesuatu’ yg berbeda.
Demikianlah, setiap elemen desain berkomposisi untuk menghadirkan sebuah keindahan (aesthetic) dan menciptakan sebuah kesan (impression). Bagaimana keindahan dan kesan yang Anda rasakan? Sungguh menyenangkan bila kita bisa berbagi melalui saran dan kritik yang mencerahkan.
‘Harga’ Rancang Grafis Indonesia (3)
” … Aku dulu buka kantor di Jakarta, Bikin web disain selain kliennya reseh dan tidak menghargai “art”, bayarannya juga ngicrit …”, keluh Anonymous, seorang web designer Indonesia yang memutuskan pergi ke Belanda meninggalkan dunia web design Indonesia (dan klien-kliennya). Disana dia mengklaim mampu menghasilkan labih dari 500 gulden setiap minggunya.
” … Potensi web designer Indonesia cukup cerah, kalau penghargaan atas desain mulai dihargai (semua jenis desain), krismon sudah lewat, dan bangsa Indonesia berubah pola pikirnya. Kesimpulannya: Saya lebih baik cari kerja di luar negeri…
Mereka berdua adalah contoh dari beberapa web designer berbakat kita yang memilih untuk berpaling dari dunia web design Indonesia, kenapa bisa begini? (toekangweb)
Kutipan di atas berasal dari sebuah situs yang sering dikunjungi oleh para perancang web Indonesia di saat segala sesuatu yang mengandung tiga huruf ‘w’ sedang marak-maraknya. Saat itu hampir setiap akhir pekan di tiap koran-koran terbitan kota besar selalu mencantumkan peluang kerja sebagai web design ataupun web programmer. Sayangnya situs ini tidak dilanjutkan dengan baik. Tulisan terakhir diposting pada tahun 2001. Sedang apa kita enam tahun yang lalu
Setelah lebih kurang enam tahun sejak kutipan di atas ditulis kondisi desain di Indonesia hampir sama saja. Hampir bisa dikatakan tidak ada perubahan dalam hal penghargaan dan apresiasi desain di Indonesia. Walaupun kutipan di atas disampaikan dalam konteks web desain, sekali lagi, permasalahan yang diungkapkan juga mewakili desain-desain yang lain. Permasalahan tersebut adalah masih kurangnya penghargaan dan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap desain karya bangsa sendiri.
Jangan heran jika terjadi yang dinamakan Richard Florida sebagai `The Flight of Creative Class’, dimana para manusia-manusia berbakat akhirnya mengungsi ke luar negeri yang lebih kondusif. Bayangkan jika seluruh desainer dari seluruh industri desain bersepakat untuk menjadikan desain dan ekonomi kreatif sebagai lokomotif ekonomi Indonesia di masa depan. Bayangkan jika ide-ide kreatif yang brilian selalu bertemu dengan nafas semangat kewirausahaan. (M.Ridwan.Kamil on orekadesign point [4] )
Yup…, jadi sebenarnya bukan suatu hal yang mengejutkan bila mendengar sebuah perusahaan asing, seperti Korea, misalnya, sanggup membayar 5 juta USD untuk sebuah desain. Justru hal tersebut sebenarnya merupakan sesuatu yang patut untuk disyukuri.
Kembali pada pertanyaan di akhir kutipan tersebut, “… kenapa bisa begini?” Seperti pada dua tulisan bagian pertama dan kedua, hat tersebut adalah tugas dan tantangan bagi insan desain Indonesia. Jawaban yang senada tapi dengan gaya yang berbeda pun dapat Anda baca di situs asal kutipan tersebut. Tugas dan tantangan para desainer grafis untuk mempu bersaing dan meningkatkan kualitasnya. Tugas dan tantangan para desainer untuk belajar memahami karakter klien yang bermacam-macam. Tugas dan tantangan para desainer untuk memberikan pembelajaran dan pencerahan terhadap klien.
Rasanya tidak cukup hanya dengan menggelar berbagai kontes desain. Tetapi akan lebih bermakna seandainya para perancang grafis juga lebih berani membuka diri. Dengan demikian, mudah-mudahan semakin banyak masyarakat yang memahami (tidak sekadar mengenal) dunia rancang grafis sehingga ke depan apresiasi terhadap karya grafis semakin dapat dirasakan secara merata, dan pada akhirnya dunia rancang grafis dapat berkembang sebagai salah satu seni yang mampu membuat hidup lebih bergairah.
Tidak bersambung lagi.
Sebaiknya baca juga sebelumnya
Desain, Oh Desain …
‘Harga’ Rancang Grafis Indonesia (1)
‘Harga’ Rancang Grafis Indonesia (2)
‘Harga’ Rancang Grafis Indonesia (2)
Apresiasi Karya Grafis
Perkembangan profesi dan bidang rancang grafis sangat dipengaruhi oleh perkembangan dan kondisi lingkungan sosial, budaya, dan ekonomi. Negara berkembang seperti Indonesia masih memusatkan perhatiannya pada upaya pemulihan kondisi ekonomi nasional. Dengan sendirinya bidang rancang grafis berada pada prioritas nomor sekian. Masyarakat Indonesia masih disibukkan dengan masalah kenaikan harga; bahan pokok, bahan bakar, minyak goreng, dan susu.
Kondisi tersebut jelas mempersulit masyarakat Indonesia untuk memperhatikan perkembangan bidang rancang grafis. Oleh karena masih disibukkan dengan pemulihan kondisi ekonomi negara, kelompok, golongan, keluarga, dan perorangan rasanya sulit untuk bisa meluangkan waktu guna mengenal dunia rancang grafis secara khusus. Ujungnya rancang grafis beserta proses kreatifnya terdengar seperti sesuatu yang asing bagi sebagian orang. Bahkan tidak jarang klien sulit menjelaskan apa maunya pada saat memesan sebuah karya grafis.
Ketidaktahuan klien tersebut akan mempengaruhi apresiasi mereka terhadap karya grafis. Hal ini sebenarnya merupakan tantangan bagi para perancang grafis untuk mengambil inisiatif memajukan rancang grafis Indonesia. Sebagai sebuah tantangan, hal tersebut terungkap dalam kutipan dari Concept Magazine Nomor 3 Edisi 17 tahun 2007 sebagai berikut.
Ketika owner-nya tak tahu maunya kemana. Sementara influence tertinggi pasti datang dari pemilik perusahaannya. Visual kan ada kategorinya sendiri. Contoh, saat ditanya Apple logonya bagus ngga? Jawabnya, “Bagus, karena memberikan benefit yang luar biasa!” Itu kesulitannya. Di Indonesia, pemilik perusahaan biasanya belum mempunyai sense untuk itu, sehingga logo menjadi “setengah-setengah” dan terkesan masih “mencari”… Hal ini berbahaya, karena image sebuah perusahaan akan tampil di logo itu sendiri. (Daniel Surya – Country Director dari Enterprise IG)
Buat kami para desainer, umumnya masalahnya lebih ke masalah pengertian, pendalaman, pengapresiasian klien itu sendiri terhadap logo. Maksudnya, hal itu belum dihargai hingga sekarang. (Nico A. Pranoto – Creative Director of Banana Inc.)
… paradigma yang menyuruh itu adalah tantangannya. Maksudnya, kita harus mengetahui apa yang ada di pikiran klien, karena sering kali apa yang mereka ucapkan, tak sama dengan apa yang ada di pikiran, hati maupun ekspetasinya. “Hal ini sangat penting, karena kita harus menjawab semua kepentingan dan kebutuhan yang klien kita inginkan,” tuturnya mewanti-wanti. (Sakti Makki – MakkiMakki Branding Consultant)
Bagaimanapun juga penghargaan dan apresiasi merupakan salah satu faktor yang mampu meningkatkan sebuah potensi. Hal ini tidak hanya berlaku untuk rancang grafis, melainkan juga untuk setiap bidang dan setiap aktivitas. Tentunya hal tersebut harus disikapi dengan tepat. Penyikapan yang tepat terhadap suatu penghargaan dan apresiasi yang diberikan oleh orang lain pastilah dapat menjadi motivasi untuk berkarya lebih baik.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa apresiasi karya grafis di Indonesia masih sangat perlu untuk ditingkatkan. Harus disadari pula bahwa saat ini Indonesia sedang berada dalam suatu proses berkembang. Walaupun demikian bukan berarti kondisi tersebut menjadikan suatu pengecualian. Indonesia tidak hidup di atas bumi ini sebagai satu-satunya bangsa dan negara. Banyak bangsa dan negara lain yang juga sedang berkembang dan berpacu dalam persaingan globalisasi. Satu hal yang pasti, bangsa lain akan menghargai Indonesia sebagaimana rakyat Indonesia menghargai dan mengapresiasi bangsanya sendiri.
bersambung …
Sebaiknya baca juga sebelumnya
Desain, Oh Desain …
‘Harga’ Rancang Grafis Indonesia (1)